Dirty Vote: Overview, Commentary, and Personal Perspective

Afifah Shafa
4 min readFeb 13, 2024

--

Kalau kamu toh sudah sangsi sama konsep nasionalisme dan patriotisme karena politik busuknya luar biasa, minimal pikirkan nasibmu. Pajakmu. Lapangan pekerjaanmu.

-saya

Perilisan dokumenter “Dirty Vote” dua hari yang lalu sukses menggemparkan dunia perpolitikan. Sebagai voter pemula tahun ini, merangkap sebagai mahasiswi sastra dan pengamat politik sambil lalu, aku punya beberapa pandangan sebagai hasil pengkajian yang aku rasa perlu aku jelaskan demi bahan diskusi bersama. Berikut 6 poin ringkasannya:

Satu, secara garis besar, dokumenter ini menceritakan tentang celah-celah berlumut pada proses menjelang pemilu 2024.

Cara serving film-nya memang nggak bisa kita komparasikan dengan hasil karya Netflix atau rumah produksi lainnya. Dari sudut pandangku, dokumenter ini dibuat dengan konsep yang agak berantakan. Indikasinya, dibuat karena keadaan sudah darurat.

Setelah dapat alert dari guru besar, kita dapat alert lagi dari pakar hukum.

Udah saatnya kita berhenti pura-pura nggak ngerti. Ini sinyal SOS. Dibunyikan dua kali.

Dua, isi keseluruhan film-nya adalah mempreteli prosedur hukum sepanjang proses menjelang pemilu. Diselingi penjelasan-penjelasan sederhana untuk menjelaskan konteks kasus yang sedang didiskusikan.

Aku ulang, ya: yang dibahas itu prosedur. Pro-se-dur. Langkah demi langkah. Sesuatu yang sudah terjadi, yang kemudian diinvestigasi kembali apakah sesuai pakem yang ada atau tidak.

Prosedur itu pada umumnya hanya bisa dijelaskan lewat kalimat deskriptif, dan kalimat deskriptif nyaris tidak bersifat tendensius.

Maka menurutku, klarifikasi fitnah yang release 2 jam pasca pelepasan film itu konyol.

Tiga, kapabilitas narasumbernya BUKAN dalam level yang bisa kita pertanyakan sebagai masyarakat awam.

Search up their names on Google and surprise. Ta-dah.

Empat, film ini mempertegas poin bahwa politisi BUKAN orang yang perlu kita kasihani.

Mereka punya semua kekuasaan terhadap aturan, angka, sampai keputusan final. Di mata beberapa dari mereka, ini permainan. Politik adalah seni keberuntungan, maka menjadi oportunis itu nggak terhindarkan, tetapi mereka sepatutnya tidak boleh dibiarkan oleh publik untuk berada di atas angin dan lupa total bahwa hasil utak-atik mereka ini imbasnya ke rakyat.

Ini statement keras sekali, but they’re certainly not within our reach. Kita — bukan hanya nggak perlu — bahkan nggak pantas mengasihani politisi.

Tidak sekarang. Tidak ketika “dari rakyat untuk rakyat” itu bentuknya masih gimmick.

Lima, kamu dengar baik-baik tentang kasus KPU Minahasa Utara yang kurang lebih begini?:

“Bukan manipulasi…”

“Tetapi mengikuti arahan untuk mengubah data?”

“Kalau begitu boleh, lah.”

“Mengubah data itu apa, Pak, kalau bukan manipulasi?”

Did you hear that? In detail?

Kemampuan politisi untuk berkelit, menghindar, serta mem-parafrase statement itu BUKAN untuk dikagumi publik. Itu skill penting untuk seorang politisi, tapi publik sudah selayaknya mengerti bahwa kepentingan mereka dipertaruhkan di bawah meja catur para politisi-politisi ini.

I beg you to THINK. Clearly. Kalau kamu toh sudah sangsi sama konsep nasionalisme dan patriotisme karena politik busuknya luar biasa, minimal pikirkan nasibmu. Pajakmu. Lapangan pekerjaanmu.

Just think twice before the day. For the sake of yourself.

Enam, “Tapi ini provokasi nggak, sih? Kesannya yang tersudutkan hanya satu pihak. Apalagi release-nya pas masa tenang. Pasti pihak produksi juga diuntungkan karena hype-nya.”

Pendapatku soal ini masih sama dengan pendapatku waktu para guru besar berbagai universitas menyampaikan keresahannya kapan hari. Anggapan riding the wave atau ikut ombak/tren itu reasonable, tapi pada dasarnya orang juga nggak mau menoleh pada sesuatu yang dia rasa nggak relevan, toh? Dan soal keuntungan…

Daripada dapat duit, aku rasa pihak di belakang dokumenter justru harus mati-matian bertahan dari serangan politis dan hukum. Urusannya bisa sampai nyawa. Mau gimanapun, ini nggak setimpal dengan the so-called “keuntungan pihak produksi”.

Lalu soal provokasi… this is exactly why I’d rather not try to explain myself to people who underestimate the strength of words and wordings. Perhatikan dan bandingkan kata demi kata yang repetitif dari para narsum di film ini dengan kalimat para juru kampanye. Pada dokumenter ini, nyaris tidak ada klaim dan label kecuali label tersebut didukung data dan dokumentasi. Kata yang digunakan berkali-kali adalah: menarik, persis, kita pasti memiliki pengalaman berbeda.

Itu bukan pilihan kata yang orang gunakan untuk provokasi. Sifatnya nggak persuasif, nggak membujuk orang untuk berpihak pada pembicara, tapi lebih menekankan supaya orang memahami esensi.

Dan soal dosa politik yang ditelanjangi di dalam dokumenter itu…

With great power comes great responsibility. Dengan begitu banyak kekuasaan, banyak juga tanggung jawab yang harus diemban. Tapi di samping itu, ada lebih banyak lagi celah kotor yang seharusnya tidak disentuh demi kepentingan egois.

Aku sudah bilang sebelumnya soal “di atas awan”, kan?

Exactly.

Kenapa yang lain kesannya nggak seberdosa itu?

Karena suci? Bukan.

Karena power-nya nggak ada.

Orang yang tidak punya power pada dasarnya lebih relatable sama rakyat, sehingga “di atas awan”-nya nggak ekstrim-ekstrim amat. Praktis, “dosa yang ditanggung” juga nggak separah itu.

Sudah. Sesederhana itu.

Karena sederhana, maka sudah waktunya kita pertimbangkan lagi baik-baik pilihan untuk coblosan besok. Aku nggak prefer bahas politik dengan diksi romantis seperti hati nurani, bukan karena menghindari klise, tapi karena narasi serupa ini mudah di-twist dengan argumen yang tidak relevan.

Jadi kalau kamu sama sama aku, rumusnya begini:

Pikirkan dirimu sendiri. Statusmu sebagai masyarakat, orang yang akan dipimpin dan diatur orang-orang di atas kertas suara itu dalam lima tahun ke depan.

Pikirkan kebijakan mereka. Mundur sejenak ke belakang, periksa riwayatnya, pastikan visi-misinya. Sekiranya kamu orang yang empatik dan tidak melulu memikirkan keuntungan sendiri, cari yang efek samping pada rakyatnya tidak nyelekit dan bikin nelangsa.

Selamat mempertanggungjawabkan hakmu sebagai warga negara demokratis :)

--

--