Hi Kid, This Is You But 3 Year Older

Afifah Shafa
4 min readJul 30, 2023

Hallo, Afifah Shafa tahun 2020 awal. Yang masih SMA, yang barusan selesai sertifikasi hafalan. Ini kamu lagi, di umur 20 tahun.

Kita udah nggak tinggal di Mojo lagi, udah lulus dari SMA tanpa wisuda (karena pandemi). Aku semakin redup, beda sama kamu yang dulu ceria, mau open sama banyak orang, dan penasaran sama segala sesuatu. Aku salut, kamu dulu banyak banget nyoba hal-hal baru (yang sayangnya sudah banyak aku lupakan dan aku hapus, padahal bisa dimasukin ke curriculum vitae, aku nggak tau sih apakah pengalaman SMA dihitung relevan untuk dunia pekerjaan, tapi yah… sayang aja).

Kita kehilangan banyak, Peh. Terlalu banyak. Teman dekat waktu SMA itu sekarang yang masih kontak bisa dihitung jari. Orang-orang yang tadinya mewarnai banyak hari-harimu (begitupun hari-harimu banyak diwarnai mereka) sekarang sudah punya kehidupan sendiri-sendiri. Kamu juga, punya hidup sendiri, meski menurutku ada banyak hal yang nggak berubah dari kita berdua: kita ingat dan jadi sentimental untuk hal-hal remeh.

Jadi dewasa, bagiku, nggak semenakutkan itu. Entahlah aku sekarang berusaha menguatkan diriku sendiri atau memang sejak dulu modal kita cuma keberanian. Cuma itu yang kita punya, kan? Gigih, sabar, tulus, itu selalu nomor dua. Berani selalu ada di top list paling atas. Berani apa-apa sendiri, berani klarifikasi masalah pribadi, berani menyampaikan yang harus disampaikan, berani minta maaf, berani kalah lagi dan gagal lagi.

Aku nulis ini karena sedang merasa… rapuh. Mungkin efek sakit. Aku lagi flu soalnya hahaha.

Rasanya tahun-tahun ini aku mengalami banyak degradasi.

Aku mulai putus ikut kajian islami, tersibukkan dengan dunia yang memeras tenaga. Aku memang bukan lagi kamu yang super santai dan nggak peduli sama segala sesuatu, aku sudah jadi “manusia normal”. Yang panik kalau ujian mau datang, yang dandan sebelum berangkat ke mana-mana karena mau terlihat decent, yang berhenti mencoba mengontrol sesuatu di luar kendalinya.

Kamu itu… control freak yang benci mengakui kelemahan dirimu sendiri. Aku baca catatanmu beberapa minggu yang lalu, mendapati ada banyak rasa nggak percaya diri dan perasaan nggak pantas yang kamu kubur dalam-dalam. Dulu, itu satu-satunya cara bertahan. Makasih, ya. Walaupun cara itu kasar dan berdampak sama aku sampai sekarang, aku paham itu udah usaha paling jauh.

Sekarang, seperti yang sudah aku bilang tadi, aku redup. Suaraku makin parau. Tenagaku banyak tergerus habis untuk memperbaiki situasi yang membuat kita berdua kacau dan nyaris mati, sekaligus memulihkan semua kekosongan yang pernah ada gara-gara pandemi dan rentang jarak.

Iya. Persamaan nomor dua: we never settle down.

Dulu kamu pindah-pindah hati, cari orang lain yang bisa ngenyangin ego dan perasaan neglected itu tadi. Sekarang perkaranya adalah soal jarak. Aku pindah terus-terusan: dari Samarinda ke Malang, ke Samarinda lagi, lalu ke Malaysia, kadang-kadang aku singgah di Surabaya dan Balikpapan, terus mampir sebentar ke Jakarta.

Kita kelewat sering meninggalkan sesuatu dan orang-orang.

Aku ingat kamu pernah bilang ke seorang teman, cinta monyetmu jaman SMA, bahwa kamu takut setengah mati ditinggalkan. Aku curiga itu cuma tameng, lapisan terluar yang kamu buat sedemikian rupa karena itu terasa masuk akal. Nyatanya, kamu cuma nggak punya nyali untuk menghentikan orang lain pergi: satu karena kamu nggak yakin apakah kamu punya hak, dua karena kamu nggak pernah tau apakah orang yang kamu minta menetap itu pantas untuk benar-benar menetap.

Aku yang sekarang sudah nggak pernah menghentikan orang lain pergi lagi. Genggaman yang kamu tambatkan pada orang yang sudah seharusnya pergi rupanya cuma meninggalkan bilur dan goresan dalam. Berdarah, pulihnya lama, dan tiap disentuh rasanya sakit lagi.

Kamu tau yang aku lakukan sekarang? Bajingan-bajingan itu… aku putuskan kontaknya. Kalau betul-betul terlalu, aku panggil lagi dan aku tampar pipinya. Aku sudah nggak malu menangis di depan mereka karena mereka perlu tau mereka menyakiti aku sedalam itu. Dulu kamu tau bahwa beberapa orang memang sampah semata karena merekanya sampah, nggak melulu karena ada luka masa lalu. Sekarang aku lengkapi itu: beberapa orang perlu ditunjukkan kesalahannya untuk mengerti bahwa mereka pernah sesalah itu.

Aku nggak bilang bahwa kita nggak brengsek. We are, jerks. Dalam hal apa, aku nggak bisa betul-betul pastikan, tapi yah, kadang-kadang kita juga sampah.

Terus, ada juga hal-hal yang aku renungi sekarang. Masih soal “normal-nggak normal” tadi. Dulu kamu adalah pribadi yang apa-apa ditrobos, nyalimu besar. Tolol, kalau bahasaku sekarang, soalnya memang kamu dulu tau terlalu banyak hal yang nggak seharusnya kamu ketahui, tapi tau terlalu sedikit untuk hal-hal yang sifatnya common sense.

Tiga tahun ini aku memperbaiki itu. Pada tiap-tiap proses yang aku lewati, aku selami maknanya dalam-dalam. Menulis bukan cuma soal menulis, karena rupanya aku sekarang melewati fase di mana aku merasa menulis itu luar biasa berat. Kalau dulu kamu menulis demi memenuhi amanah dari orang yang menitipkan tugas itu, sekarang aku menulis untuk kepentingan.

Rasa kagumku terhadap kamu yang bisa memproduksi begitu banyak karya tanpa menumpahkan rasa frustasinya (karena dulu kamu pikir toh nggak ada yang mengerti) nggak pernah pudar, karena jujur aja kapasitasku sekarang menurun drastis. In a way, itu bagus karena artinya aku lebih concern terhadap kualitas. Di lain sisi, aku sekarang jadi mudah patah. Sedikit nggak sabaran. Ada rasa diburu-buru oleh fase pendewasaan yang mewajibkan aku untuk punya penghasilan, sedangkan meniti karir dan mendapatkan uang dari menulis itu bukan perkara mudah. Satu hal lagi yang sama: kita masih suka menulis, dan entah gimana terasing bahkan di tengah-tengah komunitas penulis itu sendiri.

Selalu ada hal yang bikin kita beda, aku nggak tau apakah aku bilang ini dalam konteks yang positif atau negatif atau apa adanya aja karena itulah yang terjadi. Mulai dari kita yang nggak bisa membual-bualkan karakter, kita yang tersandung identitas, kita yang kadang terlalu lucky it doesn’t make any sense dan kadang malah terlalu banyak kena petaka it makes me wanna pull my hair out.

Dan perasaan berbeda ini kadang-kadang bikin aku merasa…

Apa ya, ngawang? Gamang? Galau? Kesepian?

Dulu kamu pikir perasaan begituan mudah dihadapi, kan? Rupanya yang dulu kamu lakukan itu bukan menghadapi, tapi membuang dan mengabaikan. Itu beda banget, nggak seharusnya diselesaikan dengan cara itu, tapi yah…

Kamu masih kecil. Aku bisa maklum.

Sebetulnya begitu aja, sih, yang mau aku omongin. Sekarang aku ngerjain novel lagi, kayak kamu, kayak kita yang nggak ada berhentinya. Semoga aku bisa dapet kegigihan yang sama dengan yang kamu punya, ya.

Mau makan pisang keju dulu.

See you around.

Unlisted

--

--