Our Values — a short reflection

Afifah Shafa
4 min readApr 16, 2023

Pernah nggak, naksir orang, terus ngerasa pengen mengubah diri supaya lebih sesuai sama value yang “si dia” anggap ideal? Atau sesederhana pengen gabung di sebuah komunitas atau kelompok pertemanan, terus kamu sadar ada pattern tertentu dari behavior mereka yang akhirnya ingin kamu tiru supaya merasa diterima?

Pada beberapa kasus dan taraf tertentu, itu disebut penyesuaian diri. Adaptasi. Menurut definisi ketiga di KBBI, adaptasi berarti penyesuaian suatu materi menurut kebutuhan; perubahan suatu materi menjadi bentuk yang baru. Aku sendiri lebih sering menggunakan definisi yang dicetak tebal: bahwa adaptasi menurut sudut pandangku adalah proses ketika kita menyesuaikan diri untuk bisa fit in di situasi tertentu tanpa harus “rombak ulang” seluruh karakter yang udah ada. Intinya, tidak sampai pada tahap di mana kita kehilangan diri sendiri.

Di kasus lain, however, ada juga beberapa situasi yang membuat kita merasa harus mengubah semuanya demi bisa diterima dan dilibatkan. Biasanya bibitnya adalah rasa takut dan cemas.

Well, I mean, to not be accepted or feel involved in certain circumstances is indeed frightening. Kalau kamu muslim, mungkin pernah denger tentang gharizah al baqa’. Naluri untuk mempertahankan diri. Ingin diakui, ingin dihargai, ingin memiliki. Part of our nature, nggak ada yang perlu disalahkan atas basic needs seperti ini.

Contoh dari imbasnya bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Range-nya luar biasa luas. Ada anak-anak yang memilih untuk jadi pemberontak demi bisa dianggap sangar dan keren sama teman-temannya sampai dia nggak segan membunuh orang (walaupun tadinya dia anak penurut baik-baik yang segala sesuatunya masih bergantung sama orang tua), we call that phenomenon as “klitih”. Ada orang dari jenis kelamin tertentu yang selalu bersikukuh bahwa dia nggak sama dengan stereotip gender yang ada di masyarakat. Kalau dia perempuan, maka dia merasa aku nggak girly seperti perempuan feminin yang lain. Kalau dia laki-laki, maka dia merasa aku lebih keren dan maskulin dari laki-laki lain. Pasti sudah ada istilah yang muncul di kepalamu. Yup, pick me.

Alasan dari perilaku-perilaku ini tentunya beragam, but you got the point. Ada andil dari rasa takut dan cemas di sana.

What I want to emphasize here is that losing yourself because of fear and anxiety, I believe, is one of the most painful things to overcome. Kehilangan diri sendiri merupakan hal yang kelewat menyakitkan untuk dihadapi, lebih-lebih kalau alasannya adalah demi orang lain, lalu buntutnya malah kita kehilangan semuanya karena orang lain yang jadi alasan tersebut nggak juga menghargai kita.

Aku nggak bisa bilang bahwa sepanjang hidupku aku sudah menghadapi peristiwa semacam ini dengan baik dan benar. As I always said, this world is slippery. Kadang-kadang kita paham teorinya, tapi praktiknya zonk. Tapi, ada beberapa prinsip yang berusaha aku pegang erat-erat supaya terhindar dari rasa sakitnya.

Pertama. Value manusia itu kompleks. Dia terbentuk dari segala macam hal yang terjadi di sekitar, both from the inside and the outside. Melibatkan segala sesuatu yang sifatnya fisik maupun mental. Yang kita lihat dan yang nggak kita lihat. Yang terjadi sebelum, saat, maupun setelah kehadiran kita.

Kedua. Saking kompleksnya, naif untuk menganggap bahwa orang lain dapat memahami value ini secara tuntas. Kita aja, yang punya diri, seringkali merasa lost dan nggak ngerti sebenernya mau apa dan gimana. Tapi, berharap itu bagian dari nature juga. Meski kedengaran nggak masuk akal, ada masa-masa di mana kita maunya kunci mulut rapat-rapat tapi ingin orang lain mengerti, padahal kunci jalannya interaksi yang bagus itu komunikasi. Jadi kalau pada akhirnya kamu tetap merasakan harapan yang menggebu-gebu soal ini (mungkin karena kalau itu kamu, kamu merasa bisa lebih pengertian), nggak masalah.

Ketiga. Sebetulnya, memahami keseluruhan value seorang individu itu bukan tugas siapa-siapa. Manusia itu berkembang, perubahan adalah sesuatu yang nggak terelakkan. Kapasitas kita sebagai manusia nggak cukup untuk selalu catch up dengan perubahan orang lain (makanya ada istilah teman lama atau mantan atau apapun yang ada kaitannya sama masa lalu dan berakhir jadi sepatah memoar belaka because ironically it’s the only choice to keep it that way, otherwise it’s getting even more messed up).

Oleh karenanya juga, kalau kamu merasa ingin banget bergabung atau diterima, coba tanya diri sendiri: sebesar apa kemungkinan untuk bisa fit in, layak nggak sih diperjuangkan sampai harus mengubah dan meninggalkan beberapa hal, apakah kamu beneran nyaman dengan orang-orang tersebut atau ada peran gengsi di sana.

Soalnya, untuk tidak menyukai dan tidak disukai itu juga bagian dari hidup. Nggak bisa ditolak dan nggak papa. That happens a lot, and not necessarily because you’re not good enough. Nyatanya, sekeras apapun kita mencoba, ada hal-hal yang sifatnya memang nggak cocok sejak awal, dan itu nggak masalah.

Akhir kata, ada nilai-nilai diri dan hidup yang bisa kita kompromikan dan sesuaikan. Itu satu dari seni hidup sebagai manusia. Di lain sisi, ada hal-hal yang nggak bisa kita paksakan dan sebagai gantinya kita harus discover yang lain lagi demi menemukan yang tepat.

Semangat, ya! Hidup masih panjang, waktu masih banyak, tenaga masih ada. May we all find comforts and joy within our closest people and don’t have to pretend about anything only for such bare minimum of wanting to be respected.

--

--