‘The Episode’ — a Memoir

Afifah Shafa
4 min readMar 19, 2023

[Tulisan ini dibuat demi mengapresiasi diri sendiri dan memvalidasi siapapun yang mengalami mental struggle di luar sana]

Trigger Warning!

  • Suicidal thoughts
  • Aku-sentris

Kalau dikasih kesempatan untuk minta maaf sambil berlutut, aku pengen minta maaf sama siapapun yang aku temui sepanjang 2022.

It wasn’t easy for them to see me.

I went through some episodes. Hubungi biro psikologi. Ikut psikoterapi, dapat assessment, merasa udah baikan, balik lagi, ketemu lagi sama terapis, dikasih obat, nangis seharian, ketakutan untuk hal-hal irrelevan, merasa kosong, kesulitan inget-inget hal bagus, self-harm, “melempar racun” ke orang yang sekadar peduli sama aku, mengisolasi diri, makan nggak teratur, hidup di duniaku sendiri, nangis di tempat umum.

Aku kesepian, tapi nggak tau siapa yang harus aku hubungi. Aku kesulitan, tapi nggak tau caranya minta tolong. Aku bingung, tapi mengingat aku harus menjelaskan beberapa hal dulu sebelum bertanya ke orang yang tepat bikin aku milih buat simpen semuanya sendirian lagi. Aku kelelahan, dan orang yang terus mempertanyakan validasi kesedihanku nggak membuat aku merasa lebih baik sama sekali.

Belasan tahun aku selalu berhasil meyakinkan diriku sendiri kalau aku selalu kuat. Belasan tahun aku selalu meyakinkan bahwa “aku beruntung, banyak yang situasinya lebih sulit daripada aku”. Belasan tahun aku mendengarkan, tapi rupanya aku nggak akan dikasih ruang untuk bicara karena aku kelihatan baik-baik aja.

Maka nggak heran kalau respon pertama setelah aku berhasil menceritakan kesulitanku adalah ditertawakan.

Orang jadi sulit memahami apakah aku serius atau nggak; karena selama ini aku baik-baik aja. Orang jadi kewalahan waktu aku cerita; karena selama ini aku nggak pernah cerita apa-apa dan tiba-tiba semua penderitaanku harus ditanggung mereka.

Apa penyebabnya?

Aku harus mulai dari mana?

Kalau cuma trauma, aku juga.

Jadi maksudnya gimana? Aku harus tanggung rasa sakit yang sama sepanjang hidup?

Kamu kesulitan? Aren’t we all?

Iya, tapi waktu kamu cari orang, ada aku. Waktu aku yang kesulitan, kamu di mana?

Aku terjebak dalam lingkaran setan: merasa bertanggung jawab karena terbiasa jadi pendengar, memilih tutup mulut karena situasiku terlalu sulit diceritakan, berpikir mau ‘selesaikan semuanya secara paksa’, memaafkan, dikuasai dendam lagi, marah, meracuni sambil menipu diri sendiri bahwa aku cuma perlu pelampiasan berupa karya seni yang gelap, nangis lagi.

Nangis itu nggak pernah untuk satu alasan yang sama. Ada masa-masa di mana aku cuma melamun, tiba-tiba mataku udah basah. Ada juga masa-masa aku harus cari bantal buat bekap mukaku sendiri supaya orang nggak takut denger suara nangis malam-malam. Satu kali alasan nangisnya adalah kenapa aku diperlakukan begitu, ya?, berikutnya aku salah udah cerita ke orang, harusnya aku simpen aja karena masih sanggup, sekarang dia terbebani, cara minta maafnya gimana ya?, lalu aku capek begini terus, tapi masa mau log out sekarang? aku kasian sama diriku sendiri, dan yang paling sering kok salah semua, ya? harusnya gimana, sih?

Seolah semuanya belum cukup membuat aku terbebani, aku malah menemui orang yang kurang tepat. Orang yang kalau aku temui, malah memilih untuk sibuk sama dunianya sendiri. Orang yang nggak mau buka mulut untuk mengomunikasikan sesuatu kecuali aku yang mulai. Orang yang bilang aku nggak sepantasnya berduka karena dia lebih menderita.

Dan aku dibesarkan dengan baik. Aku tau aku harus mengalah sekali lagi dan mendengarkan sambi berpikir oh mungkin dia yang benar.

Tapi rupanya “dibesarkan dengan benar” ini membuat aku meletakkan diri sendiri di daftar prioritas paling bawah. Aku terus-terusan belajar jadi obat, tapi jadinya cuma kayak lilin. Aku terbakar buat menghangatkan orang lain, lalu lama-lama malah kehilangan semuanya dan nggak punya apa-apa lagi termasuk diriku sendiri.

Waktu itu, rasanya menyedihkan karena aku terlalu butuh atensi orang.

Lama-lama aku mulai nangisin karya seni. Apapun. Lagu, lukisan, cerita.

0X1=LOVESONG bisa dibilang lagu yang paling menggambarkan persepsiku terhadap diriku sendiri. Udah hancur, nggak berguna, nggak ada sisanya. Semua tentang lagu itu terasa dekat kecuali bahwa belakangan aku merasa bahkan lagu itu lebih beruntung daripada aku karena di masa paling terpurukku aku nggak ingat, nggak bergantung, dan nggak punya siapa-siapa lagi.

Aku terus-terusan meracau ke orang-orang yang ngerti: aku mau lari, aku capek, aku mau selesai, aku mau lepas.

Nggak mudah menghadapi aku di 2022. Rasa syukur dan penyesalan terdalamku ada di mereka.

Lalu akhirnya, di akhir tahun, aku pergi sungguhan.

Aku bersyukur itu pelarian terbaik untukku pribadi karena baru di sana aku berani menghadapi ketakutan terbesarku.

Sekarang masalahnya belum selesai, tapi aku merasa jauh lebih sehat.

Episode-episode itu membuat aku sadar bahwa aku sendiri nggak bisa menggaransikan kehadiranku ke orang yang sedang hancur, karena jelas aku nggak bisa selamanya ada di sisi dia. Ada orang-orang yang berusaha datang dan membantu, dan ada orang-orang yang aku kira akan membantu tapi sebenarnya cuma merasa bersalah kalau ninggalin aku sendirian (ini orang yang salah, menjauh aja).

Aku bersyukur masih ada rasa sayang dan kasihan ke diriku sendiri. Ada rasa nggak tega untuk beneran akhirin semuanya dan harus liat dia hancur sekali lagi.

Dari semua hal sakit yang pernah datang dan obat yang pernah aku cari, aku nggak seharusnya meracuni diriku sendiri.

Aku nggak sempurna, aku salah, tapi aku nggak pantas diperlakukan seperti itu.

Jadi aku juga nggak seharusnya terlalu lama menghukum diriku sendiri.

Kalau kesepian itu rasanya pahit karena dibumbui rasa tidak dipedulikan dan disayangi, aku bisa coba menyayangi diri sendiri.

Aku tau kematianku nggak akan menimbulkan duka permanen, tapi kehidupanku masih bisa dipakai untuk melukis senyuman di wajah orang…

sekaligus di wajahku sendiri.

--

--